Minggu, 13 Februari 2011

Bab 3 Manusia dan Penderitaan

Nama : Jedi permadi
Kelas : 1KA33
Npm : 13110734
Materi : Ilmu Budaya Dasar
Kelompok : 4
Dosen : Ninuk Sekarsari

Kekalutan Mental
Penderitaan batin dalam ilmu psikologi dikenal sebagai kekalutan mental. Secara lebih sederhana kekalutan mental adalah gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah laku secara kurang wajar. Gejala permulaan bagi seseorang yang mengalami kekalutan mental adalah :
• nampak pada jasmani yang sering merasakan pusing, sesak napas, demam, nyeri pada lambung
• nampak pada kejiwaannya dengan rasa cemas, ketakutan, patah hati, apatis, cemburu, mudah marah
Tahap-tahap gangguan kejiwaan adalah :
• gangguan kejiwaan nampak pada gejala-gejala kehidupan si penderita bais jasmana maupun rokhani
• usaha mempertahankan diri dengan cara negative
• Kekalutan merupakan titik patah (mental breakdown) dan yang bersangkutan mengalam gangguan

Sebab-sebab timbulnya kekalutan mental :
• Kepribadian yang lemah akibat kondisi jasmani atau mental yang kurang sempurna
• terjadinya konflik sosial budaya
• cara pematangan batin yang salah dengan memberikan reaksi yang berlebihan terhadap kehidupan sosial

Proses kekalutan mental yang dialami seseorang mendorongnya kearah positif dan negative. Posotf; trauma jiwa yang dialami dijawab dengan baik sebgai usaha agar tetap survey dalam hidup, misalnya melakukan sholat tahajut, ataupun melakukan kegiatan yang positif setelah kejatuhan dalam hidupnya. Negatif; trauma yang dialami diperlarutkan sehingga yang bersangkutan mengalami fustasi, yaitu tekanan batin akibat tidak tercapainya apa yang diinginkan. Bentuk fustasi antara lain :
• agresi berupa kamarahan yang meluap-luap akibat emosi yang tak terkendali dan secara fisik berakibat mudah terjadi hypertensi atau tindakan sadis yang dapat membahayakan orang sekitarnya
• regresi adalah kembali pada pola perilaku yang primitive atau kekanak-kanakan
• fiksasi; adalah peletakan pembatasan pada satu pola yang sama (tetap) misalnya dengan membisu
• proyeksi; merupakan usaha melemparkan atau memproyeksikan kelemahan dan sikap-sikap sendiri yang negative kepada orang lain
• Identifikasi; adalah menyamakan diri dengan seseorang yang sukses dalam imaginasinya
• narsisme; adalah self love yang berlebihan sehingga yang bersangkutan merasa dirinya lebih superior dari paa orang lain
• autisme; ialah menutup diri secara total dari dunia riil, tidak mau berkomunikasi dengan orang lain, ia puas dengan fantasinya sendiri yagn dapat menjurus ke sifat yang sinting.
Apabila kita kelompokkan secara sederhana berdasarkan sebab-sebab timbulnya penderitaan, maka penderitaan manusia dapat diperinci sebagai berikut :
• Penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk manusia
• Penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan/azab Tuhan
Orang yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh bermacam-macam dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif ataupun sikap negative. Sikap negative misalnya penyesalan karena tidak bahagia, sikap kecewa, putus asa, atau ingin bunuh diri. Kelanjutan dari sikap negatif ini dapat timbul sikap anti, mislanya anti kawain atau tidak mau kawin, tidak punya gairah hidup, dan sebagainya. Sikap positif yaitu sikap optimis mengatasi penderitaan, bahwa hidup bukan rangkaian penderitaan, melainkan perjuangan membebaskan diri dari penderitaan dan penderitaan itu adalah hanya bagian dari kehidupan. SIkap positif biasanya kreatif, tidak mudah menyerah, bahkan mungkin timbul sikap keras atau sikap anti. Misalnya sifat anti kawin paksa, ia berjuang menentang kawin paksa, dan lain-lain.

link sumber

Case Study:
Kemiskinan ekstrem adalah sesuatu yang harus saya sebut sebagai
ketololan. (Bono, personel band U2)

Beberapa hari lalu media di Tanah Air ramai memberitakan peristiwa
yang sempat menggemparkan Kota Bandung. Anik Koriah, seorang ibu,
karena impitan ekonomi, tega membunuh tiga anaknya, Abdullah Faras
(6), Aulia Rahmatullah (4), dan Umar Nasrullah yang baru berumur 9
bulan.

Sekitar setahun terakhir ini kita sering ditunjukkan berbagai bentuk
metamorfosis kemiskinan. Putus asa karena tidak lagi mempunyai biaya
untuk mengobati anaknya yang sakit, seorang ibu di Jakarta terpaksa
mengambil jalan pintas, bunuh diri bersama kedua anaknya. Seorang ibu
di Banyumas mengakhiri hidup dengan menceburkan diri ke Sungai Serayu
beserta seorang anaknya yang balita. Juga seorang ibu eksodan Aceh di
Semarang, ia tega membunuh anaknya dengan mencelupkan di air
mendidih. Dan banyak contoh tragis lain.

Contoh-contoh itu bukan untuk mendramatisir keadaan, tetapi
mengingatkan kita, utamanya para penentu kebijakan, betapa kini
kehidupan masyarakat kian menyesakkan. Untuk sekadar membeli makanan
dan obat bagi anak yang sedang sakit, mereka tak mampu lagi. Kondisi
kesulitan hidup dan kemiskinan seperti ini mengakibatkan makin banyak
orang tidak dapat berpikir secara rasional lagi.

Jebakan kekurangan

Kemiskinan didefinisikan sebagai kondisi deprivesi atas sumber
pemenuhan kebutuhan dasar, seperti pangan, sandang, papan, kesehatan,
dan pendidikan dasar. Menurut Robert Chamber (1983), inti kemiskinan
pada apa yang disebut jebakan kekurangan (deprivation trap). Jebakan
kekurangan ini meliputi lima ketidakberuntungan, yaitu kemiskinan itu
sendiri, kelemahan fisik, keterasingan, kerentanan, dan
ketidakberdayaan. Kelimanya saling mengait, yang akhirnya menimbulkan
jebakan kekurangan.

Kerentanan dan ketidakberdayaan menyebabkan keluarga miskin menjadi
kian miskin. Kerentanan terlihat dari ketidakmampuan keluarga miskin
menyediakan sesuatu guna menghadapi situasi darurat, seperti
datangnya bencana alam atau penyakit. Kerentanan sering menimbulkan
roda penggerak kemiskinan (poverty racket) yang menyebabkan keluarga
miskin harus menjual hartanya.

Kemiskinan merupakan akar tindak kriminal, demikian penelitian ekonom
Inggris, Paul Ormerod. Kemiskinan dan gap yang ditimbulkan diyakini
menjadi biang fenomena militansi, ekstremis, gerakan antiglobalisasi,
dan perasaan terabaikan, yang merebak beberapa tahun terakhir ini
dalam bentuk gerakan terorisme. Karena itu, semua negara di dunia
harus memerangi kemiskinan.

Di negeri ini bencana datang silih berganti. Gempa, tsunami, banjir
bandang, tanah longsor, kekeringan, kelaparan, demam berdarah dengue
(DBD), diare meluas, flu burung, letusan gunung api, gempa bumi
Yogyakarta dan Jawa Tengah, dan semburan lumpur panas di Sidoarjo.

Aneka bencana itu membuat puluhan ribu orang harus menerima kenyataan
cacat seumur hidup. Bahkan, banyak yang terpaksa harus menapak
kehidupan sebatang kara karena tak ada saudara tersisa. Episode
kesedihan panjang dan masa depan suram tergambar di wajah mereka.

Kekalutan mental

Semua bencana itu, ditambah kondisi perekonomian bangsa yang tak
kunjung membaik, memicu peningkatan jumlah penderita kekalutan mental
(mental disorder). Yaitu bentuk gangguan dan kekacauan fungsi mental
yang disebabkan kegagalan mekanisme adaptasi dari fungsi- fungsi
kejiwaan terhadap stimuli eksternal dan ketegangan-ketegangan.

Ekspresi yang ditimbulkan dari kondisi itu antara lain konflik batin
berkepanjangan, terputusnya komunikasi sosial dan disorientasi sosial
yang menjurus tumpulnya jiwa (hebefrenic). Tak jarang para penderita
melakukan destruksi diri dan bunuh diri bersama orang yang mereka
cintai.

Jika kebutuhan paling vital seperti makan, minum, tidur, pakaian,
istirahat, dan lainnya tidak terpenuhi, ini akan mengakibatkan
ancaman eksistensi diri. Timbullah aneka keguncangan dan gangguan
mental dari taraf paling ringan sampai paling berat, misalnya
psikosis (Kartini Kartono, 1981 : 269-305).

Guna mengubah keadaan orang miskin ke arah lebih baik, harus diadakan
perubahan tiga hal secara simultan. Pertama, penambahan resources,
misalnya kesempatan kerja dan pendidikan. Kedua, perubahan struktur
sosial masyarakat. Ketiga, perubahan subkultur masyarakat miskin itu
(Valentine, 1968).

Pemberian akses kredit mikro kepada penduduk miskin diyakini amat
berperan mengatasi akar kemiskinan. Hasil-hasil riset FAO, UNDP, dan
Bank Dunia di beberapa negara, seperti India dan Banglades,
menunjukkan, akses kredit bagi kaum miskin amat signifikan
memberdayakan warga yang dulu miskin. Pemberian bantuan yang sifatnya
konsumtif dan instan semisal bantuan langsung tunai (BLT) perlu
dikaji ulang efektivitasnya.
Perang terhadap kemiskinan akan berhasil jika semua elite politik
memiliki political will yang tinggi. Saatnya kemiskinan dijadikan
musuh bersama dalam aksi nyata, bukan hanya dalam ramuan kata saat
kampanye politik. Membiarkan kemiskinan menggerogoti masyarakat
adalah sebuah bentuk ketololan.

Sumber : http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/message/31901

Opini :
Hidup memang kadang tak adil, tapi bisa mungkin kita lihat ke bawah dan bersyukur bahwa kita masih di beri kebahagiaan. harta dan hidup royal bisa membutakan hati dan membuat orang iri hati yang bisa menimbulkan banyak masalah. Bekal agama pun di butuhkan untuk menjaga ketenangan jiwa. agar kelak selalu bersyukur, sabar dan selalu berusaha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar